‘Pulang’ dan Kenyang di Gadjah Brasserie

Semua bermula lewat sebuah undangan test food yang datang dari Mas Paksi Raras. Berhubung saya memang cukup passionate soal makanan, jadilah saya menyanggupi untuk datang dengan sepenuh hati. Dan keputusan itu sama sekali nggak saya sesali. Temen-temen bakal tau alasannya setelah selesai baca postingan ini. :))

Saya tiba di Gadjah Brasserie sekitar pukul delapan malam, memang nelat, karena harus nunggu jemputan. Pertama agak bingung nyari tempatnya karena belum ada signage-nya, tapi sebenarnya cukup mudah. Tinggal menyusuri jalan Pandega Marta, kalau dari arah ringroad, tempatnya ada di kiri jalan tepat sebelum jembatan, kalau dari Monjali, berarti sebaliknya.

First impression saya sama tata ruang Gadjah Brasserie adalah homy dan cozy. Rasanya kayak lagi ada di ruang tengah rumah sendiri. Yaa, kalau kelak punya rezeki bikin rumah secantik itu, sih. :p

Ruangannya memang nggak terlalu luas, tapi berhasil ditata dengan apik, sehingga tetap nyaman buat jadi tempat hangout lengkap dengan foto-foto barengnya. :)) Ada sebuah lantai parquet yang di atasnya terdapat sebuah piano, gitar, mikrofon dan rak buku. Desainnya diatur sedemikian rupa sehingga kesannya seperti berada di dalam rumah. Kece, ya…

Nah, kalau yang di bawah ini adalah penampakan ruang di depan stage mungil tadi. Lengkap dengan open kitchen di salah satu sisinya. Sekarang percaya ‘kan kalau saya bilang tempat ini Instagram-able banget?! :p

Sekarang mari kita bahas soal menunya. Saya pikir malam itu saya hanya akan mencicipi beberapa menu dalam porsi kecil. Namanya juga food testing ‘kan. Tapi ternyata saya salah. Menu yang disuguhkan banyak banget, enak-enak, dan porsinya sangat cukup untuk bikin perut kami kebingungan ngatur ruang di dalamnya.


Yang pertama keluar adalah Egg Benedict with Smoked Salmon ini. Ngeliatin kuning telurnya yang meleleh ditambah salmon yang menyembul dari bawahnya, bikin saya berasa nangis pelangi. Girang banget! Well, telur yang dimasak setengah matang dan salmon memang dua jenis makanan yang termasuk bagian awal dari daftar makanan kesukaan. Dan Egg Benedict with Smoked Salmon ini enak!!

  Egg Benedict with Smoked Salmon.  Meleleh di mana-manaaaa...

Egg Benedict with Smoked Salmon. Meleleh di mana-manaaaa...

Menu kedua, agak mirip sama yang pertama kalau ditinjau dari bahan-bahannya. Bedanya, yang ini telurnya orak-arik. Yah, dari namanya juga sudah ketahuan, sih. Scrambled Egg with Smoked Salmon on Croissant. Sama enaknya! Dan sampai sini kami mulai merasa kenyang. :))

 Yeay! Salmon lagiii...!!

Yeay! Salmon lagiii...!!

Lanjut lagi yang ketiga. They called it Mr. John. Terdiri dari deep fried dory fish, potato wedges dan ratatouille. Oh, ada cuminya juga yang kayak di-sauté dikit gitu yang jadi topping. Ikan dory-nya sukses jadi bintang, mulai dari tekstur, tampilan dan rasanya, menggoda semua. Tapi jujur saya masih belum bisa menikmati ratatouille-nya. Kalau ini selera pribadi, sih. Saya memang masih belum bisa suka sama zucchini, paprika dan teman-temannya itu. Hehehe…

Kami pikir ini adalah menu terakhir yang disuguhkan. Ternyata masih ada lagi! Mulai makin bingung ngatur napas dan ngatur kapasitas perut biar muat. Soalnya sayang kalau dilewatkan, tapi lebih sayang lagi kalau mubazir karena nggak habis dimakan. Menu ketiga ini namanya Gadjah Sandwich. Waktu servernya memperkenalkan namanya, saya agak kaget. Sandwich? Kok bentuknya nggak mirip sandwich sama sekali? Setelah diberi penjelasan, rupanya memang secara bahan, memang bahan untuk membuat sandwich. Hanya saja cara penyajiannya yang berbeda. Bukannya ditumpuk biasa, tapi roti tawarnya dipipihkan terlabih dahulu, kemudian dibentuk menjadi mangkok yang menyerupai kelopak bunga. diberi isian berupa daging dan keju, lalu dipanggang di dalam oven selama beberapa menit sampai rotinya set, dagingnya matang and of course, kejunya meleleh.

Menu ini juga jadi salah satu favorit saya. Tekstur rotinya renyah tapi lembut. Bukan tipikal renyah yang buyar ke mana-mana pas digigit. Dan ada rasa manis yang sedikit keluar dari roti, berpadu dengan gurihnya daging asap dan lelehan keju. Huwaaaa!! Jadi laper sendiri nulisnya, Yang jelas Gadjah Sandwich ini bisa jadi pilihan yang tepat untuk snacking sore-sore, karena cukup bisa mengganjal perut sebelum makan malam.

Ini dia penampakannya…

Sudah empat menu yang disuguhkan, akhirnya keluar juga dessert-nya. Kami hampir aja ngibarin bendera putih di meja karena perut sudah nggak kuat buat menampung apa-apa lagi. :)) Sebenarnya sebelum dessert, ada juga menu lain yaitu Dimas Platter cuma nggak sempat saya foto. Isinya goreng-gorengan kayak smoked beef, sosis, kayaknya ada chicken nugget-nya juga. Lupa, soalnya waktu itu nggak ikut makan, cuma nongkrongin meja sebelah yang kemudian disuguhi menu tersebut. Nama Dimas diambil dari nama salah satu owner-nya, yang masih sangat muda dan *ehm* ganteng.

Lanjut ngomongin dessert, yang ini namanya Apple Turnover, yang rasanya memang sukses bikin jungkir balik saking enaknya. I’m not a big fan of apple pie, tapi apple pie ini berhasil bikin saya jatuh cinta pada suapan pertama. Tekstur pastry-nya pas banget renyah dan lembutnya, terus filling-nya juga nggak terlalu manis. Jadi nggak bikin mblenger setelah beberapa suap kayak apple pie yang pernah saya incipi sebelumnya. Tekstur apelnya sendiri masih agak kerasa, krenyes-krenyes, manis-asem seger! Apalagi ditambah es krim vanila. Duh!


Selain menu-menu yang ada di postingan ini, sebenarnya masih banyak menu lainnya yang ada di Gadjah Brasserie. Selengkapnya bisa dilihat di akun Instagram@gadjahbrasserie, atau langsung dateng ke sana. :p Dan soal harga, menurut saya menu-menu di sini masih masuk kategori terjangkau. Worth every pennies! Karena selain rasanya enak, tempatnya nyaman dan tenang, plating-nya juga keren. Yang merasa dirinya food photographer baik yang secara profesi atau yang hanya untuk kebutuhan social media, menurut saya harus banget dateng ke sini.

Tapi, jangan lupa ajak saya, ya! :p