Invisible

Here I am, standing
In the deep shadow, hiding
On the dark corner, sobbing

To the girls under the spotlight, I stare
To walk and join them, how could I dare
Wanna scream to you, cause it’s unfair

There’s someone who finally found an oasis in a desert. Me.
There’s a heart who willing to stay even though it’s hurt. Mine.
And there’s a love who chose to be unseen. Pretend to be fine.

It’s me…
It’s my heart…
It’s my love…
Invisible.

Neverland

We’re lying on the bed, pretend that it’s a fluffy cumulus
Staring at the ceiling, thinking about nothing
It’s dark, yet it feels so bright
We’re glowing, our minds get blowing

Talk about those random thoughts
Being unrealistic without a splash of doubt
We’re free, we’re lost
And refused to be found

Keep walking, as long as we’re still breathing
There’s no end, we know
We won’t find a wonderland, I know

If it’s just a dream, don’t wake me up
Take your sedatives and let your eyes shut
There’s something I want to show
Road to Neverland, a place to let our sorrows go

Gaun Gilraen

Gilraen…
Gadis periang yang suka berkelana
Menyusuri jalan, menuju tempat yang belum bernama
Mengetuk pintu-pintu rumah yang tak ia kenal penghuninya

Bertemulah ia suatu hari
Dengan seorang gadis yang lebih senang menutup diri
Tapi gadis ini punya satu hal yang tak ia miliki
Satu hal yang menjadi alasannya berkelana, mencari-cari

Gilraen yang nakal, Gilraen yang selalu penasaran
Ia tertarik pada satu benda yang teronggok di sudut ruangan
Yang mengusik pikirannya sejak pertama kali mereka berjabat tangan
Sebuah lemari pakaian

Ia tahu, di dalamnya ada sebuah gaun sederhana yang sangat sesuai di tubuhnya
Gaun kesayangan teman barunya
Beruntung, pemiliknya sering meninggalkan lemari terbuka begitu saja
Membuatnya makin tergoda untuk mencoba

Gilraen yang nakal, Gilraen yang selalu penasaran
Berulang kali diambilnya gaun itu kemudian ia kenakan
Meskipun pada akhirnya kembali ia tanggalkan
Segan…

Gilraen tahu diri
Ia mengerti, gaun itu tak bisa ia miliki
Ia juga tak punya cukup keberanian untuk mencuri
Ia tak mau teman barunya sakit hati

Gilraen yang malang
Sekali lagi, satu harapan ia relakan terbuang
Ia kembali berkelana, dengan langkah yang kini limbung karena bimbang
Sambil menunggu saat yang tepat, untuk membawa gaun itu pulang

Meski entah kapan…

Sejauh Bayangan Dalam Sekeping Kaca

Siapa yang benar-benar bisa mengukur jarak antara dua orang yang sedang duduk berhadapan?
Tak ada.

Coba saja ukur jarak antara aku dengan ia yang berada di depanku saat ini
Sejangkauan tangan? Mungkin…
Tapi apa kaulihat tangan kami bertautan?

Seucapan kata? Sepertinya…
Tapi adakah kaudengar kami bicara di luar basa-basi?

Sehembusan napas? Bisa jadi…
Tapi apa menurutmu sengal napasku ini mampu menyentuh wajahnya?

Setatapan mata? Kelihatannya…
Tapi coba perhatikan lagi, beradu pandang pun aku tak berani.

Seolah melihat bayangan pada sekeping kaca.
Terasa begitu dekat, tapi disentuh, mana bisa…

Kira-kira sejauh itu jarakku, dengan ia yang duduk di seberang meja…

Serpihan Krayon Patah

Entah punggung siapa yang dibasuh hujan sebelum ia jatuh ke tanah
Serpih rindunya pekat terperangkap, larut dalam butir-butir basah
Mungkin itu punggung seorang gadis kecil, yang menjelma udara
Tak kasat mata, namun tetap ada

Hujan kali ini terasa jauh berbeda
Tak ada dua orang bocah kecil, laki-laki dan perempuan, yang berlarian di antara derasnya
Mereka dulu tak pernah peduli akan hujan
Semburat keceriaan di pipi mereka seolah turut mewarnai awan

Sekarang sang bocah laki-laki sudah tak mau main hujan lagi
Ditinggalkannya si bocah perempuan di teras rumah dengan sekotak krayon warna-warni
Pada selembar kertas buram, ia belajar melukis pelangi
Berantakan. Krayonnya patah  berulang kali, gambarnya pun luntur ia tangisi

Entah punggung siapa yang dibasuh hujan sebelum ia jatuh ke tanah
Serpih rindunya pekat terperangkap, larut dalam butir-butir basah
Mungkin itu punggungku yang penuh serpihan krayon-krayon patah
Warnanya tercampur dan mengeruh, gelayuti harap yang mulai lelah…

Sementara Kau Lelap Terpejam

Malam lepas
Menyisa serpih mimpi yang terhempas
Luruh ia dari tepi bintang
Jatuh perlahan, sesekali melayang

Angin nakal
Bila jatuh, biarlah jatuh
Bila hilang, biarlah hilang
Hentikan embusanmu yang serupa napas ragunya

Seseorang di bawah sana menunggu dengan khidmat
Memejam mata, membathin tangisnya
Lantunkan lamat-lamat kalimat puja
Bahagia, pintanya

Malam lepas
Pagi bebas
Dunia kian bias
Wajahnya pias

Sang harap pergi terlalu lekas…..

Di Rekah Langit Yang Sama

Malam menggandakan diri
Panjang dan gemerlapan
Hiruk-pikuk tawa, jerit sukacita
Larut aku di dalamnya

Sesap demi sesap
Tenggak demi tenggak
Lantai berputar dalam putaran
Berayun aku dalam tarian

Terhenti hentakku dalam seulur lengan
Lembut dan nyaman serupa awan
Lantai masih berputar dalam putaran
Aku memejam dalam pelukan

Malam menggandakan diri
Namun hadirnya fajar tak mungkin dipungkiri
Rekah langit yang sama, untuk kali kedua
Terlukis pelan pelangi di kening, seiring mataku terbuka

Bocah Laki-laki dan Sekotak Krayon Warna-Warni

November baru saja terbit malu-malu,
basah ia oleh tangis yang bukan miliknya
Mungkin milik awan yang cemburu,
pada rekah pelangi di bibir gadis kecil yang tengah tertawa

Ia kini punya teman baru
Seorang bocah laki-laki lucu
Selalu temaninya dengan sekotak krayon warna-warni
Hingga sepi memilih ‘tuk undur diri

Dikenalkannya warna demi warna
Dilukisnya satu per satu lengkung yang sempurna
Cerahkan dua busur kusam,
di bawah hidung sang gadis, yang diam-diam menyimpan kelam

November masih basah oleh tangis yang bukan miliknya
Dua bocah berlarian dalam meriah canda
Tak setitik bias mendung langit pada wajah-wajah lugu itu
Hanya empat pipi dengan semu merah jambu…

Blur!

Imaji tak berdimensi,
Luntur dan pucat pasi,
Kamu berdiri.

Remang garis maya-nyata,
Buram batas mimpi-pasti,
Kamu menari.

Bayangmu kurajut, mewujud,
Hingga ku hampir tak berdenyut.
Takut-takut.

Telisipmu di sela serat cemburu yang rapat,
Gulir bola-bola, cepat, demi rekam sekelibat,
Rekah bibir terbusur, lecutkan hangat,
Guncang benakmu, bangun!
Harap kau lihat….

Cinta dan Taman Ria

Mencintaimu bagai bertandang ke taman ria
Aku di sana mencari bahagia
Dari mesin-mesin permainan
Wahana-wahana menegangkan

Aku mempertaruhkan uangku di sana
Seperti aku mempertaruhkan hatiku dalam cinta
Demi bahagia, demi suka ria
Walau serantai bahaya mengikat di baliknya

Mencintaimu bagai meletakkan bokongku pada bangku roller coaster
Terbalik, terhempas, terlontar di ketinggian belasan meter
Dinamika, katamu
Tapi aku sudah hampir tak bisa menahan mualku

Mencintaimu bagai menjepit boneka dalam kotak kaca
Kemungkinan hampir tak ada tapi ingin terus mencoba
Pasti bisa, kataku
Meski hatiku mulai kenal akan ragu

Tapi mencintaimu memang bagai bertandang ke taman ria
Penuh dengan euphoria, menjajal segala yang aku bisa
Sudah tak peduli akan bahaya
Lelah namun bahagia

The Wanderer

Tahukah kamu tempat tinggalku? Aku bukan manusia bumi, aku cuma numpang tinggal di sini. Ya, di atas tanahnya dan di bawah langitnya…

Ingin tahu tempat tinggalku? Oh,kamu tak akan tahu. Kecuali kuundang kau ke sana. Bersamaku, tentu saja…

Tak seperti manusia yg lain, rumahku bentuknya bundar. Mungil dan hampir transparan. Aku bebas menggelindingkannya ke mana saja saat bosan.

Aku tak butuh dapur, kamar tidur, ruang tamu atau pun kamar mandi. Semua ada di sini, di otakku, di imajinasiku…

Bila malam tiba aku bersembunyi, menutupi “rumah”ku dengan imajinasiku, agar tak ada yg bisa mengintip ke dalam. Aku tak mau mimpiku dicuri…

Saat mentari datang, aku gelindingkan rumahku, penuh riang, mengamati apa yg bisa aku amati dari dinding transparannya.

Aku bisa melihat apa saja, tanpa ada orang melihatku. Aku bisa menembus apa saja, tanpa ada orang yang tahu. Aku suka…

Aku pernah tak sengaja menggelinding ke markas perampok, mereka sedang merencanakan sesuatu, entah apa, tapi sepertinya tentang sebuah alat.

Alat yang tak terlihat dan mampu menembus apapun, seperti rumahku. Ah, tak berguna, batinku… Toh aku tak perlu uang, imajinasiku sudah sangat membahagiakanku.

Di lain hari, aku menggelinding ke pusat kota, menyusup ke perkantoran. Uh, aku tak tahan… Terlalu banyak hal buruk yang kulihat.

Di sini, seorang bos merayu sekretarisnya. Di sana, sekelompok karyawan mengadakan diskusi gelap tentang rencana penggelapan. Di situ… Ah, entah…

Aku menghentak, menggelinding lagi, kali ini ke hutan. Aku ingin bertemu teman-temanku. Ya, hanya mereka yg tau keberadaanku.

Di sana aku bercerita, bercengkrama dengan mereka. Terkadang mereka mengadu padaku, hutan tak lagi aman, mereka tak lagi hidup tenang.

Aku hanya bisa jadi pendengar, aku bukan orang bumi, aku tak bisa apa-apa. Aku hanya bisa hibur mereka dengan imajinasiku, sebatas itu.

Tak terasa matahari pun undur diri, aku memberi salam selamat tinggal pada teman-temanku. Menggelinding lagi mencari tempat yang tersembunyi.

Mengapa sembunyi? Sekali lagi karena aku tak mau mimpiku dicuri. Itu hartaku, hanya itu milikku.

Manusia tak melihatku saat sadar, namun lewat mimpi mereka bisa menemukanku. Karenanya aku bersembunyi, menutup rumahku dengan selubung imajinasi.

Seru ‘kan jadi aku? Bertualang ke mana aku mau… Kamu mau ikut denganku? Temui aku malam ini, di mimpimu…

Tiga Wanita, Tiga Cerita

Aku selalu suka tempat ini, meja di pojokan ini. Biasanya aku menghabiskan berjam-jam waktuku bersamanya. Bercengkrama, berdiskusi, bermesraan, banyak! Untuk hari ini hanya segelas jus apel dan sebuah novel yang menemaniku. Ia sedang sibuk.

*****

HAH! Selalu saja membatalkan di detik-detik terakhir! Padahal aku sudah menantikan hari ini, dia ‘kan sudah janji. Gaun dan sepatu tumit tinggi baru, dengan susah payah aku mencoba terbiasa memakainya untuk kencan kali ini. Untung saja aku membawa kaos, jeans dan keds-ku. Ah! Dan tak lupa rokok kretekku.

*****

Tak terasa, sudah sepuluh tahun pernikahan kami. Semoga kali ini dia tepati janjinya. Aku ingin bernostalgia.

*****

Seorang lelaki memasuki kafe itu, tertegun sejenak, melangkah mundur perlahan, berputar arah, pergi.