Serpihan Krayon Patah

Entah punggung siapa yang dibasuh hujan sebelum ia jatuh ke tanah
Serpih rindunya pekat terperangkap, larut dalam butir-butir basah
Mungkin itu punggung seorang gadis kecil, yang menjelma udara
Tak kasat mata, namun tetap ada

Hujan kali ini terasa jauh berbeda
Tak ada dua orang bocah kecil, laki-laki dan perempuan, yang berlarian di antara derasnya
Mereka dulu tak pernah peduli akan hujan
Semburat keceriaan di pipi mereka seolah turut mewarnai awan

Sekarang sang bocah laki-laki sudah tak mau main hujan lagi
Ditinggalkannya si bocah perempuan di teras rumah dengan sekotak krayon warna-warni
Pada selembar kertas buram, ia belajar melukis pelangi
Berantakan. Krayonnya patah  berulang kali, gambarnya pun luntur ia tangisi

Entah punggung siapa yang dibasuh hujan sebelum ia jatuh ke tanah
Serpih rindunya pekat terperangkap, larut dalam butir-butir basah
Mungkin itu punggungku yang penuh serpihan krayon-krayon patah
Warnanya tercampur dan mengeruh, gelayuti harap yang mulai lelah…